Catatan Hati Ukhty Tini
Sebening Hatiku, Sebening Cintaku
Tuesday, July 20, 2010
Friday, May 21, 2010
Waspada atau Buruk Sangka
Azan Magrib sudah berlalu setengah jam-an yang lalu. Kabut kelam mulai membungkus hari pada 21 May 2010 ketika kami melangkahkan kaki meninggalkan Rumah Sakit Budi Kemulyaan (RSBK) selepas menjenguk Mbak Lis tercinta. Status kami yang belum bersuami (bukan promosi ya :p ) memaksa kami untuk memutuskan bahwa biarlah kami sendiri saja menempuh perjalanan jauh menjangkau tempat berteduh alias pulang ke rumah.
“Simpang jam?” Tawarku pada pemilik taksi berplat resmi dibalas dengan tawaran harga yang mungkin lebih tinggi dari biasanya, dan kami menyetujuinya.
Tak kusangka di tengah perjalanan menuju Simpang Jam, kedua sahabat baikku yang Chinese ini justru membuatku bingung atau lebih tepatnya takut dengan penjelasan mereka bahwa mendapatkan taksi ke arah Sekupang bukanlah hal mudah. Pernyataan ini bukanlah tanpa sebab, telah berulang kali mereka merasakannya ketika hendak ke kantor pada hari libur.
Lili telah berpamitan lebih dulu sebelum taksi yang membawa kami sampai di Simpang Jam, karena rumahnya berada di bilangan Baloi. Tinggal aku dan Juju yang memiliki arah rumah yang juga berbeda, tapi yang jelas Simpang Jam adalah titik yang memisahkanku dengannya. Ia tinggal di Batam Centre dan aku di Sekupang.
Tawaranya untuk menemaniku hingga mendapatkan taksi kusambut dengan gembira. Dan tak berselang lama ketika akhirnya aku mendapatkan taksi yang sudi mengantarkanku pulang ke rumah. Mungkin sebab kalimat bahwa mendapatkan taksi untuk ke Sekupang tidak mudah membuatku lupa bahwa memilih taksi berplat hitam alias tidak resmi sangat membahayakan untuk seorang gadis yang berpergian sendirian.
Mungkin pembaca bisa membayangkan bagaimana rasa takut yang kuderita, ketika kemudian taksi yang kutumpangi mendapatkan tiga penumpang yang kesemuanya laki-laki. Aku rasanya ingin menumpahkan kemarahan pada adik laki-lakiku satu-satunya yang menolak menjemputku, karena alasan jauh. Dan pembaca pasti juga tau bagaimana asma Allah begitu lekat diseluruh aliran darahku.
Jika aku benar-benar pendekar berjilbab putih mungkin aku tidak perlu setakut ini atau mungkin bisa bertingkah galak ketika laki-laki asing disampingku terkadang memandangku dengan pandangan yang kupersepsikan sebagai pandangan aneh.
Kejadian tragis yang menimpa mahasiswi sebuah universitas swasta tahunan lalu serasa jelas membayang dalam ingatanku. Dan benar yang kupikirkan hanyalah berburuk sangka pada ke empat laki-laki yang berada dalam satu mobil denganku.
Dan terlepas dari suasana menakutkan dengan ending aku aman, bukan melepaskanku dari kesalahan berburuk sangka meski alasannya adalah waspada. Semoga Allah mengampuniku, amin.
Teringat sebuah pesan dari Rosulullah, hendaknya seorang wanita tidak keluar rumah tanpa ditemani muhrimnya.
Lalu pelajaran berharga apa yang ingin anda sampaikan setelah membaca sedikit ceritaku di atas?
Sunday, May 16, 2010
Pendekar Berjilbab Putih Part 3
Mereka sudah menunggunya saat pendekar berjilbab putih itu tiba. Seperti biasanya, Meydia tampak cantik dibalut jilbab putih dipadu dengan jubah dan celana panjang putih abu-abu, di pinggangnya tampak mengikat erat selendang biru muda berjuntai. Pedang yang terselempang di punggungnya menggambarkan ia bukan pendekar biasa. Tangan kanannya memegang erat sebuah tongkat berukuran sepundak dari tubuhnya. Ia sengaja membawanya agar tak melukai lawan-lawannya dengan pedangnya.
“Akhirnya kau datang juga” Ujar mereka membuat Meydia tersenyum tipis.
“Seorang pendekar muslimah sepertiku pantang ingkar janji, apa mau kalian sekarang? Bertarung denganku?” Tanya Meyda langsung.
“Hahaha kau yang mengundang kami kesini bukan?”
“Ya, aku harus membuat perjanjian dengan kalian”
“Ada perjanjian? Apa sama-sama menguntungkan, hahahaha.” Mereka tertawa bahak tampak senang. Wajah-wajah jahat itu memandangi Meyda.
“Kalian harus meninggalkan dusun ini.” Ucap Meyda tenang.
“Apa? Meninggalkan dusun ini? Hahaha.” Terdengar lagi gelak tawa mereka seolah apa yang diucapkan Meydia baru saja adalah lelucon.
“Bagaimana jika kami tidak mau?” Goda mereka dengan seringai nakal
“Maka aku akan memaksa kalian” Meydia menarik kaki kirinya membentuk kuda-kuda. Semilir angin malam di terangi cahaya bulan membuat Bukit Rejosari tempat Meydia berpijak terang benderang.
“Wow, ada yang akan menghajar kita rupanya, kau ingin pertarungan seperti apa? Satu lawan satu?”
“Jangan membuang waktuku, aku bisa mengusir kalian semua sekaligus” Teriak Meydia lantang.
“Jangan sombong gadis cantik!! Hiyat…”
Laki-laki bertubuh jangkung tampak gusar dan segera menyongsong meydia dengan tangan terkepal mengandung kekuatan. Meydia yang sedari tadi sudah bersiap dalam satu kali hentakan sudah melambungkan tubuhnya untuk menghindari serangan lawan. Dalam sekejab tubuh ringannya mendarat membelakangi sang lawan yang geram mendapati serangannya menghantam angin kosong belaka.
Meydia memutar tongkatnya kebelakang untuk menangkis pedang lawannya yang sudah terhunus dan seketika pedang itu terlempar diiringi pekikan kesakitan dari pemiliknya. Melihat temannya berlutut sambil memegangi tangannya, kelima lainnya tanpa basa-basi segera menyerang juga dengan pedang yang terhunus dan tampak berkilauan terkena sinar rembulan. Meydia segera menyiapkan jurus tongkat harimau. Seketika ia garang memainkan tongkatnya, sekali-kali tubuhnya berputar keatas dan mendarat kembali dengan tongkatnya yang juga sigap melakukan serangan. Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat musuh-musuhnya kesakitan dan harus mengakui kekalahan mereka.
Pemimpin mereka yang sedari tadi menonton meski dilanda khawatir tetap berkelebat menyerang Meydia, gadis cantik itu memiringkan tubuhnya 90 derajat sebelum kemudian menendang tubuh lawan dengan kekuatan tidak penuh namun cukup membuat sang lawan terpental beberapa tomdfhhbak.
“Pergi kalian dari sini, jangan paksa aku membunuh kalian” Gertak Meydia, dan cukup membuat mereka tertatih-tatih membawa lari tubuh mereka yang lebam.
Sepasang mata mengawasi dari balik rimbunnya pohon, berdecak kagum atas kepiawaian Meydia menghajar lawan-lawannya. Sebelum akhirnya menyaksikan Meydia telah meninggalkan tempat itu dengan ilmu meringankan tubuhnya .
Bersambung
Friday, May 7, 2010
Masihkah Rindu Itu Memilikimu
By. Tiny
Dalam seperempat purnama aku menekuri ini
Menggugah hati tuk menyadari
Detik waktu yang merambat mendekat
Tiba masa semua hanya menjadi kisah
Masa lalu
Cintaku, memuncak pada selukis senyum memesona
Kepada sepasang alis bertemu
Kepada binaran mata memandang
Dan aku akan bertanya
Ingatkah engkau duhai pemilik senyum?
Saat kita bercerita di balik kaca
Kelak kita akan merenda cinta bersama
Meneguknya untuk kekuatan jiwa
Merinduinya untuk kenangan tak terlupa
Terfikirkah duhai pemilik binaran mata?
Berpisah itu menyakiti cinta
Tapi ia menguatkan rasa dengan sabar
Tak bersua itu mengundang tangis
Namun ia memberi arti tentang indahnya memiliki
Dan aku memejamkan mata
Terbayangkanlah kelak
Saat rindumu ada bersama senyummu
Masihkah rindu itu memilikimu
Batam, 7 May 2010
If tomorrow never come, you must know that I love you and I miss you so much _^_
Dalam seperempat purnama aku menekuri ini
Menggugah hati tuk menyadari
Detik waktu yang merambat mendekat
Tiba masa semua hanya menjadi kisah
Masa lalu
Cintaku, memuncak pada selukis senyum memesona
Kepada sepasang alis bertemu
Kepada binaran mata memandang
Dan aku akan bertanya
Ingatkah engkau duhai pemilik senyum?
Saat kita bercerita di balik kaca
Kelak kita akan merenda cinta bersama
Meneguknya untuk kekuatan jiwa
Merinduinya untuk kenangan tak terlupa
Terfikirkah duhai pemilik binaran mata?
Berpisah itu menyakiti cinta
Tapi ia menguatkan rasa dengan sabar
Tak bersua itu mengundang tangis
Namun ia memberi arti tentang indahnya memiliki
Dan aku memejamkan mata
Terbayangkanlah kelak
Saat rindumu ada bersama senyummu
Masihkah rindu itu memilikimu
Batam, 7 May 2010
If tomorrow never come, you must know that I love you and I miss you so much _^_
Monday, May 3, 2010
Rinai Hujan Di Langit Batam
By. Tini
Hujan deras mengguyur kota menjelang petang kala itu, di bilangan kawasan industri sekupang Batam, laki-laki sangat muda itu tinggal. Tampak ia tengah berlari menembus air langit yang turun lebih lebat, memang pantang bagi seorang laki-laki menangis karena kecengengannya, tapi kini ia tak perduli, ia hanya ingin menangis untuk meluahkan sejuta gundah yang tengah ia rasakan, menumpahkan kesedihan seumpama anak termalang dari sekian anak-anak seusianya. Toh ketika tetesan air mata membasahi pipinya akan terlampau susah untuk dibedakan apakah itu air mata ataukah air hujan.
Apa sebab hatinya begitu berduka adalah ketika mimpinya tak jua menjadi nyata, rasanya mandeg satu tahun untuk meneruskan SMA adalah sudah cukup. Tapi tidak demikian faktanya, kesadaran barunya muncul bahwa kemiskinan orang tuanya adalah alasan utama kenapa ia masih harus merasakan pahitnya mengorbankan mimpi dan masa depannya.
***
Rumah tempat ia dan kedua orang tuanya bernaung di bangun di atas tanah yang memang bukan milik mereka, hidup di pinggiran lembah dan dengan di suguhi bentangan air laut di belakang rumah tempat mereka membuang berbagai macam limbah dan sampah. Taukah apa gambaran yang pas untuk keadaan mereka selain keadaan yang berkekurangan. Ia masih memiliki tiga orang adik, yang dua diantaranya harus tinggal di kampung halaman neneknya karena biaya sekolah di sana lebih terjangkau.
Dani, begitu ia biasa di panggil. Entah sejak kapan menyukai hujan. Apakah sejak ia bisa menangis tanpa takut disebut cengeng, atau sejak ia ingin marah namun tak kuasa? Kerap ia sendiri tak mampu menjawabnya. Usianya baru menginjak enam belas tahun dan sejak setahun yang lalu ia telah menjadi alumni sebuah Sekolah Menengah Pertama Negri dengan hasil yang baik. Namun hingga kini, orang tuanya belum mampu membantunya menggenapi biaya untuk mengecap manisnya bangku Sekolah Menengah Atas.
***
Dani baru saja menyelesaikan pekerjaan barunya, membantu sebuah usaha yang bergerak di bidang katering, yang juga menggaji ibunya, Dani tidak berbeda remaja kebanyakan, tapi ia lebih menjadi anak penurut dan ramah, keinginannya untuk meneruskan sekolah begitu kuat, hingga ia bersedia menerima saran orang tuanya untuk bekerja dahulu sebelum melanjutkan sekolah. Meski dari lubuk hatinya Dani iri pada anak-anak seusianya yang tidak perlu memikirkan kebutuhan sekolah, tugas mereka satu yaitu belajar. Mungkin kelak mereka akan menjadi orang-orang penting di negri ini atau akan menjadi manusia-manusia yang mampu merubah peradaban.
Kegiatan Dani lainnya adalah menjadi muadzin di Mushola Subulussalam yang tak jauh dari rumahnya, meski dengan pemahaman agama yang pas-pasan. Dani bisa mengeja huruf Al Qur'an. Dani juga punya sahabat-sahabat yang sering ia ajak nongkrong di depan rumah genjrang-genjreng dengan gitar jadul mereka, menyanyikan lagu terkini dan sedang hit, sekadar pengusir lelah dan resah.
***
Genap setahun sudah Dani bekerja, meski serabutan dan tidak jelas gaji nya, tapi Dani masih sangat berharap itu bisa menjadi modal sekolahnya. Ah.. semangatnya masih sama, keinginan itu juga masih sangat sama. Dengan langkah hati-hati Dani mendekati sang ayah mencoba meluluhkan hati beliau dengan keinginannya.
"Ayah, tahun ini Dani sekolah ya, umur Dani sudah enam belas tahun " ujarnya sambil memainkan ujung sarung sebagai selimut tidurnya.
Sesaat hanya helaan nafas sang ayah yang terdengar. Menambah jantung Dani berdebar-debar, baginya ini keputusan akhir. karena jika tidak sekarang kelak usianya sudah tujuh belas tahun dan sangat tipis harapannya bisa terwujud.
"Tidak ada biaya" Begitu akhirnya jawaban singkat dari sang ayah. Dani tidak berkomentar lebih, ia memejamkan mata, menahan sesak di dadanya, dia benar-benar ingin menangis tapi cuaca sedang tak bersahabat dengan air matanya, kekuatan hatinya mencoba menahan ledakan pilu yang begitu membuatnya sedih.
Dan dua tahun itu berlalu, kini Ia harus menuruti kemauan orang tuanya, bekerja dan bekerja, karena memang tak ada pilihan lain , sebuah galangan kapal yang berlokasi di Tanjung Uncang , bersedia menerimanya menjadi karyawan, menggajinya setiap bulan, usianya telah menginjak 17 tahun dan baginya kini semua impiannya sudah berlalu.
***
Belum genap empat bulan ketika kecelakaan kerja itu merenggut nyawanya, usianya dengan wajah yang bagi semua orang teramat muda tidak menghalangi maut menjemputnya. Dani menghembuskan nafas terakhirnya dengan menahan rasa sakit di kepalanya ketika ia terjatuh dari ketinggian pada saat menyelesaikan pekerjaannya, Rinai hujan di langit batam dan tangisan mengiringi kepergianya, menyesali kenapa begitu cepat ia pergi, berandai-andai ini dan itu.
Tiada hidup yang abadi, Ia yang datang, akan pergi. Seorang penguasa, pengemis atau pertapa - setiap orang yang lahir pasti mati. Menghembuskan nafas terakhir di atas tahta, atau diseret ke dalam kubur dengan kaki dan tangan terikat, apa bedanya?
***
Selamat Hari Pendidikan
Cerpen lama setelah diedit, untuk almarhum sahabat atau adik, semoga Allah menerima amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu, amin.
Sunday, April 25, 2010
Pendekar Berjilbab Putih Part 2
Episode lalu: Yasa di bawa kabur oleh sekelebat bayangan saat hendak menyerang Meyda yang tidak sempat mengetahui siapa gerangan yang ia taksir memiliki ilmu meringankan tubuh mengagumkan itu.
“Aisyah RadhiAllahuanha, adalah ummul mukminin yang dekat dengan ilmu, kepiawaiannya dalam menafsirkan Al Qur’an dan meriwayatkan hadist Rosulullah Shalallahualaihi wasalam, tak pernah diragukan oleh para sahabat dan khalifah” Meyda menghentikan kalimatnya, ia tatap wajah antusias para murid kecilnya dengan senyum.
Seorang gadis kecil mengangkat tangan “Apa Aisyah cantik seperti Ibunda guru?”
Meydia tersipu, dengan senyum ia menganggukan kepala “Aisyah adalah istri kecintaan Rosulullah, ia sangat cantik, lebih cantik daripada ibunda guru sayang…”
“Apa Aisyah bisa berperang Ibunda guru?”
“Tidak, tapi Aisyah dengan ilmu yang ia miliki telah mengobarkan semangat kaum mujahid untuk berperang ”
“Karena itu kita harus belajar ibunda guru?”
“Tentu saja, bagus sekali, kalian pintar dan sudah paham” Meyda tersenyum puas .
Para murid kecilnya tertawa senang, dan mulai mengemasi peralatan belajar tanpa diminta setelah mata pelajaran usai, dan setelah membaca do’a penutup, mereka berlarian untuk berebut mencium tangan Meyda.
Sebuah tawa keras mengagetkan mereka, membuat para murid kecilnya beringsut mengkerut di balik tubuh Meyda yang segera berdiri tegap , waspada.
Segerombolan manusia berjumlah tujuh orang yang berpakaian serabutan mendekat, dilihat dari penampilannya mereka adalah penjahat dan ini dibenarkan oleh seorang gadis kecil yang membisikan kalimat pelan kearah telinga Meyda yang segera membungkukkan badan “mereka itu yang suka memukuli para penjual di pasar ibunda guru” Meyda mengangguk paham.
“Apa kepentingan kisanak semua datang ke tempat kami ini dengan mengindahkan etika bertamu dengan baik” Meyda membuka suara
“Hahaha, tidak usah berbelit-belit gadis cantik, siapa yang mengijinkanmu mengajar anak-anak dusun ini tanpa sepengetahuan kami hah!”
“Siapa kalian dan apa urusan kalian”
“Hahahahaha” suara tawa membahana memenuhi ruang tak begitu besar, berdiding papan dan beratap rumbai itu.
“Kami adalah penjaga di dusun ini, siapapun orang baru yang membuat kegiatan di sini harus membayar pajak kepada kami”
“Pajak? Kepala dusun tidak pernah menyinggung tentang pajak”
Lagi-lagi terdengar suara ejekan dengan kerasnya tawa, murid-murid Meyda ketakutan saling merapat satu dengan lainnya. Meyda harus cepat membuat keputusan
“Saya tidak akan membayar pajak” ujarnya
“Hahahahaha, jangan nekad gadis cantik, wajah cantikmu itu akan berubah menjadi monster kalau kau melawan”
“SAYA TUNGGU KALIAN DI BUKIT REJOSARI UNTUK MENYELESAIKAN INI” tulisnya di atas sebuah kertas, menghindari anak-anak kecil mendengarnya.
“Dengar, jika kalian merasa malu mengeroyoku di depan anak kecil, turuti ini”para penjahat itu langsung berembuk. Sesorang membisikan sesuatu kepada pemimpinnya yang di sambut tawa sumringah, ada cahaya mesum yang terpancar dari pandangan matanya.
Meydia bisa menangkap itu, “lelaki biadap” bisik hatinya, ia biarkan mereka pergi dengan tawa mereka. Dan setelah mereka menjauh Meyda segera menenangkan para murid kecilnya , menghapus air mata gadis kecil yang sempat menangis .
“Dengar Andini sayang, tidak ada yang perlu di takutkan dari manusia seperti mereka, wanita harus kuat seperti Khansa”
“Siapa Khansa ibunda guru”
“Besok ibunda guru ceritakan” Andini mengangguk dan mengusap air matanya
“Baiklah , ibunda guru antar kalian pulang” dan dalam sekejab suasana sepi menyergap ruangan itu.
***
Yasa mengerjapkan matanya, ia baru tersadar setelah semalaman tertidur, pandangannya menyusuri ruangan tempat ia tergeletak, ia baru ingat semalam gurunya yang membawanya dirumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa ini, dipojok, didekat jendela sana tersedia singkong rebus dan kopi yang masih mengepulkan asap tanda baru saja di hidangkan, tapi ia masih tak menemukan sang guru.
Segera ia mengangkat tubuhnya untuk beranjak, rasa sakit di perutnya sudah benar-benar sirna, ia ingat kekalahannya atas Meydia , “memalukan” bisik hatinya. Dan matanya telah menangkap sosok sang guru yang tengah duduk bersila di atas batu dengan tangan menangkup di dada layaknya semedi kala ia telah berdiri di pintu. Deburan ombak laut tempat gurunya menghadap seringkali di tingkahi oleh semilir angin memecah kesenyuian namun tetap menciptakan suasana tenang.
“Kau sudah bangun” ujar sang guru masih memejamkan mata saat ia mendekat. Ia tau gurunya punya indra keenam yang bisa merasakan kehadiran orang lain tanpa harus melihat langsung.
“Iya guru, terimakasih sudah menyembuhkan rasa sakit ini, tapi kenapa guru membawa saya kabur dari sana? Bukankah itu sangat memalukan” guru tersenyum sinis, masih dengan mata tertutup
“Seorang pendekar juga tidak boleh mati konyol bukan, kau masih memiliki banyak tugas yang harus di selesaikan”
“Tapi guru, pendekar wanita itu…”
“Kau hanya butuh berlatih lebih keras lagi, jangan malas!!! Seorang pemalas hanya akan mendapati ilmunya setengah-setengah, paham?”
“Baik guru, tapi … apa benar para warga dusun itu tidak sepenuhnya bersalah guru?”
“Jangan percayai musuh, kau bisa melihat sendiri kejahatan mereka dulu, apa kau percaya begitu saja?
Kita akan membuat taktik melawan pendekar wanita itu, dia membahayakan misimu”
Yasa terpekur, kesedihannya mengingat tragedi belasan tahun lalu menerbitkan dendam membara dihatinya.
***
bersambung...
“Aisyah RadhiAllahuanha, adalah ummul mukminin yang dekat dengan ilmu, kepiawaiannya dalam menafsirkan Al Qur’an dan meriwayatkan hadist Rosulullah Shalallahualaihi wasalam, tak pernah diragukan oleh para sahabat dan khalifah” Meyda menghentikan kalimatnya, ia tatap wajah antusias para murid kecilnya dengan senyum.
Seorang gadis kecil mengangkat tangan “Apa Aisyah cantik seperti Ibunda guru?”
Meydia tersipu, dengan senyum ia menganggukan kepala “Aisyah adalah istri kecintaan Rosulullah, ia sangat cantik, lebih cantik daripada ibunda guru sayang…”
“Apa Aisyah bisa berperang Ibunda guru?”
“Tidak, tapi Aisyah dengan ilmu yang ia miliki telah mengobarkan semangat kaum mujahid untuk berperang ”
“Karena itu kita harus belajar ibunda guru?”
“Tentu saja, bagus sekali, kalian pintar dan sudah paham” Meyda tersenyum puas .
Para murid kecilnya tertawa senang, dan mulai mengemasi peralatan belajar tanpa diminta setelah mata pelajaran usai, dan setelah membaca do’a penutup, mereka berlarian untuk berebut mencium tangan Meyda.
Sebuah tawa keras mengagetkan mereka, membuat para murid kecilnya beringsut mengkerut di balik tubuh Meyda yang segera berdiri tegap , waspada.
Segerombolan manusia berjumlah tujuh orang yang berpakaian serabutan mendekat, dilihat dari penampilannya mereka adalah penjahat dan ini dibenarkan oleh seorang gadis kecil yang membisikan kalimat pelan kearah telinga Meyda yang segera membungkukkan badan “mereka itu yang suka memukuli para penjual di pasar ibunda guru” Meyda mengangguk paham.
“Apa kepentingan kisanak semua datang ke tempat kami ini dengan mengindahkan etika bertamu dengan baik” Meyda membuka suara
“Hahaha, tidak usah berbelit-belit gadis cantik, siapa yang mengijinkanmu mengajar anak-anak dusun ini tanpa sepengetahuan kami hah!”
“Siapa kalian dan apa urusan kalian”
“Hahahahaha” suara tawa membahana memenuhi ruang tak begitu besar, berdiding papan dan beratap rumbai itu.
“Kami adalah penjaga di dusun ini, siapapun orang baru yang membuat kegiatan di sini harus membayar pajak kepada kami”
“Pajak? Kepala dusun tidak pernah menyinggung tentang pajak”
Lagi-lagi terdengar suara ejekan dengan kerasnya tawa, murid-murid Meyda ketakutan saling merapat satu dengan lainnya. Meyda harus cepat membuat keputusan
“Saya tidak akan membayar pajak” ujarnya
“Hahahahaha, jangan nekad gadis cantik, wajah cantikmu itu akan berubah menjadi monster kalau kau melawan”
“SAYA TUNGGU KALIAN DI BUKIT REJOSARI UNTUK MENYELESAIKAN INI” tulisnya di atas sebuah kertas, menghindari anak-anak kecil mendengarnya.
“Dengar, jika kalian merasa malu mengeroyoku di depan anak kecil, turuti ini”para penjahat itu langsung berembuk. Sesorang membisikan sesuatu kepada pemimpinnya yang di sambut tawa sumringah, ada cahaya mesum yang terpancar dari pandangan matanya.
Meydia bisa menangkap itu, “lelaki biadap” bisik hatinya, ia biarkan mereka pergi dengan tawa mereka. Dan setelah mereka menjauh Meyda segera menenangkan para murid kecilnya , menghapus air mata gadis kecil yang sempat menangis .
“Dengar Andini sayang, tidak ada yang perlu di takutkan dari manusia seperti mereka, wanita harus kuat seperti Khansa”
“Siapa Khansa ibunda guru”
“Besok ibunda guru ceritakan” Andini mengangguk dan mengusap air matanya
“Baiklah , ibunda guru antar kalian pulang” dan dalam sekejab suasana sepi menyergap ruangan itu.
***
Yasa mengerjapkan matanya, ia baru tersadar setelah semalaman tertidur, pandangannya menyusuri ruangan tempat ia tergeletak, ia baru ingat semalam gurunya yang membawanya dirumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa ini, dipojok, didekat jendela sana tersedia singkong rebus dan kopi yang masih mengepulkan asap tanda baru saja di hidangkan, tapi ia masih tak menemukan sang guru.
Segera ia mengangkat tubuhnya untuk beranjak, rasa sakit di perutnya sudah benar-benar sirna, ia ingat kekalahannya atas Meydia , “memalukan” bisik hatinya. Dan matanya telah menangkap sosok sang guru yang tengah duduk bersila di atas batu dengan tangan menangkup di dada layaknya semedi kala ia telah berdiri di pintu. Deburan ombak laut tempat gurunya menghadap seringkali di tingkahi oleh semilir angin memecah kesenyuian namun tetap menciptakan suasana tenang.
“Kau sudah bangun” ujar sang guru masih memejamkan mata saat ia mendekat. Ia tau gurunya punya indra keenam yang bisa merasakan kehadiran orang lain tanpa harus melihat langsung.
“Iya guru, terimakasih sudah menyembuhkan rasa sakit ini, tapi kenapa guru membawa saya kabur dari sana? Bukankah itu sangat memalukan” guru tersenyum sinis, masih dengan mata tertutup
“Seorang pendekar juga tidak boleh mati konyol bukan, kau masih memiliki banyak tugas yang harus di selesaikan”
“Tapi guru, pendekar wanita itu…”
“Kau hanya butuh berlatih lebih keras lagi, jangan malas!!! Seorang pemalas hanya akan mendapati ilmunya setengah-setengah, paham?”
“Baik guru, tapi … apa benar para warga dusun itu tidak sepenuhnya bersalah guru?”
“Jangan percayai musuh, kau bisa melihat sendiri kejahatan mereka dulu, apa kau percaya begitu saja?
Kita akan membuat taktik melawan pendekar wanita itu, dia membahayakan misimu”
Yasa terpekur, kesedihannya mengingat tragedi belasan tahun lalu menerbitkan dendam membara dihatinya.
***
bersambung...
Friday, April 23, 2010
Tiba-tiba , Lagi-Lagi
Tiba-tiba menjadi penakut
Melihat kekurangan diri tak disuka manusia lainnya
Seberapa diri menghibur dengan kesabaran
Seberapa ketakutan membuat tak berdaya
Tiba-tiba menjadi pengecut
Melihat kobaran api melalap tempat berpijak
Seberapa diri menyadarkan hanya buaian
Seberapa kepengecutan merenggut keberanian
Tiba-tiba ingin menangis
Menyadari lagi-lagi merasa begini
Merindukan Tuhan tapi tak menemukan cahaya
Tak menangkap jalan menuju Nya
Melihat kekurangan diri tak disuka manusia lainnya
Seberapa diri menghibur dengan kesabaran
Seberapa ketakutan membuat tak berdaya
Tiba-tiba menjadi pengecut
Melihat kobaran api melalap tempat berpijak
Seberapa diri menyadarkan hanya buaian
Seberapa kepengecutan merenggut keberanian
Tiba-tiba ingin menangis
Menyadari lagi-lagi merasa begini
Merindukan Tuhan tapi tak menemukan cahaya
Tak menangkap jalan menuju Nya
Subscribe to:
Posts (Atom)

